Monel

Posted: Februari 6, 2011 in Korosi

Monel adalah nama dagang untuk nickle alloys. Adapun komposisinya adalah sebagai berikut:

Nickle 67%, Copper 20%, iron dan impurities lainnya.

 Material ini pertama kali dikenalkan oleh David H. Browne. Monel memiliki ketahanan korosi yang baik. Oleh karena itu material pada dunia oil and gas sering digunakan untuk trim material valve.

Berikut ini adalah beberapa pengujian yang dilakukan untuk memenuhi kriteria NACE -0175.

A. Chloride Stress Cracking Test

Pengujian ini dilakukan berdasarkan ASTM G 36 pada temp 100 C dengan aeration boling 40% larutan CaCl2 dan PH nya adalah 6.5.  Stress yang menyebabkan kegagalan pada 500 jam harus melebihi 0.85 ultimate tensile strength.

B. Pitting Corrosion Test

Pengujian ini dilakukan berdasarkan ASTM G 48 dengan menggunakan ferritic chloride solution (10% FeCl 3.6 H2O) pada temperature 30C dan waktu 24 jam. Benda uji lolos jika:

  • Tidak terdapat pitting corrosion pada permukaan pada temperature 30 dan 50C.

NACE-0175 requirement for CS

Posted: Februari 3, 2011 in Korosi

Berikut ini adalah beberapa kriteria CS yang bersesuaian dengan NACE-0175

Manufacture

  • Logam (CS) harus “fully killed” (pada procesnya dilakukan pengambilang sulfur dan pospor) dan “fine grained” (butirnya halus).
  • Proses pembuatan logam tersebut harus dilakukan dengan cara basic oxygen furnace (BOF) dan atau electro furnace.
  • Logam memiliki kandungan sulfur dan phosporous yang rendah. Biasanya dilakukan dengan refining process atau vacum degassed.
  • Tambahkan calcium untuk mengurangi kadar phosporous dan sulfur (ini juga di kategorikan sebagai fully killed steel).
  • Lakukan special treatment untuk mengurangi inclusion dari aluminium oxide, slilicate dan magnesium sulphide.

Manufacturer harus berhati hati dalam mengkontrol process rolling dan heat treatment sehingga process tersebut dapat mengeleminasi transformasi microtructure pada temperature rendah yang diikuti dengan segregasi seperti bainite band atau islets dari martensite yang bertujuan untuk mengurangi propagasi HIC.

Berikut ini adalah beberapa testing yang dibutuhkan yang berelevansi dengan code (NACE 0175). Pengujian ini haruslah bersertifikasi dan memiliki saksi dalam pengujiannya.

A. HIC Testing

Bentuk, dimensi benda uji harus sesuai dengan NACE TM 02-84.

Pengujian dilakukan pada 3 buah spesimen uji. Pengujian dilakukan sesuai dengan NACE TM 02-84. Berikut ini adalah kriteria dari spesimen lulus uji.

  • Crack Sensitive Ratio (CSR) ≤ 0.009%
  • Crack Length Ratio (CLR) ≤ 0.009%

B. Sulphide Stress Corrosion

Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan Metode NACE TM 01-77. Kriteria lulus uji pada spesimen adalah:

  • 72% SMYS, dengan waktu kegagalan tidak lebih dari 720 jam.

C. Hardness Test

Setiap produk akhir harus dilakukan pengujian kekerasan yang bersesuaian dengan ASTM E 18 dan ASTM E 92. Batasan dari harga kekerasan pada produk carbon steel adalah 22 HRC.

D. Micro Harness Test

Pengujian ini dilakukan dengan metode ASTM E 45. Untuk mengkontrol inclusion maka lakukanlah calcium treatment. Ingat, pada CS tidak boleh teradapat manganse sulphide  inclusion.

E. Chemical Analysis

Produk yang telah selesai harus dilakukan test secara kimiawi untuk mengetahui komposisi kimiawinya.

Untuk karbon equivalen kadar carbonnya tidak lebih dari 0.04% CE. Formula yang digunakan adalah sebagai berikut:

CE = C + Mn/6 + Cr+Mo+V/5 + Ni+CU/15

Untuk karbon murni, maka kadar karbon haruslah tidak lebih dari 0.21% C. Formula yang digunakan adalah:

C = Si/30+ Mn+Cu+Cr/20 + Ni/60 + Mo/15 + V/10 + 5B

F. Ultrasonic Testing

Pengujian harus dilakukan pada benda dengan ketebalan 12.7 mm dan lebih bersesuaian dengan ASTM A587 level II. Tidak diperkenankan untuk repair welding.

Corrosion Monitoring

Posted: Februari 3, 2011 in Korosi

Sistem yang berpotensial terhadap korosi akan membutuhkan “monitoring facilites”. Antara lain adalah “corrosion Coupon” atau “corrosion probe”. Dimana corrosion monitoring memebutuhkan dua buah acces fittings yang harus di install dengan electrical resistance (ER) probes dam corrosion coupon. Tipe dan dimensi coupon haruslah berupa elemen yang sensitive dalam fase air.

Poin poin yang harus diperhitungkan:

  • Beberapa system membutuhkan sample untuk analisis kimia.
  •  Sistem dimana serangan bakteri dapat terjadi,  maka dibutuhkan “bioprobes” dan sample point.
  • Beberapa testing lainnya yang berelevansi ke korosi dan management akan dibutuhkan dalam system yang tepat.
  • Seluruh carbon steel akan membutuhkan destructive testing pada beberapa point

Chemical Injection 

Injeksi kimia dilakukan untuk mengurangi laju korosi pada logam carbon steel. Adapun letatk dan caranya menginjeksi kimia berdasarkan cara dibawah ini.

Injeksi Kimia harus diinjeksi paling tidak 10 pipe D dari non korosiv material seperti duplex atau spake brake. Jarak tersebut dibutuhkan untuk memastikan bahwa pencampuran inhibitor dengan fluida berlangsung sempurna sebelum fluida masuk atau melalui pipa karbon steel.

Erosion Corrosion

Posted: Februari 3, 2011 in Korosi

Adalah jenis korosi yang kerusakannya karena aliran fluida (kerusakan karena mekanis) dan reaksi electromechemical. Erosi juga didefinisikan sebagai degradasi yang dipercepat karena adanya aliran fluida. Groves, gullies, sudut tajam, permukaan gelombang adalah karakter kerusakan dari erosi korosi.

Errosion Corrosion in Piping

Errosion Corrosion in Piping

“Impingment” dan kavitasi adalah mode kerusakan dari errosion corrosion.

“Fretties corrosion” adalah kerusakan pada kontak permukaan. Ini juga dikategorikan sebagai “errosion corrosion”. Penyebabnya hampir sama dengan errosion corrosion (electrochemical dan aliran fluida) ditambah dengan ‘load” misalnya adalah vibrasi. Sumuran atau lebih dikenal dengan “pits” dan tergerusnya lapisan oksida adalah mode karakterisasi dari “fretties corrosion”.

Galvanic Corrosion

Posted: Februari 3, 2011 in Korosi

Galvanic corrosion atau disebut juga dissimilar metal Corrosion adalah jenis korosi yang terjadi ketika dua buah benda logam diletakan bersentuhan dalam lingkungan elektrolit korosiv.

Dalam pasangan bimetallic, logam yang kurang mulia menjadi anode dan cendrung mengalami korosi dengan laju yang diakselerasikan, dibandingkan dengan kondisi yang tak bersentuhan. Logam yang lebih mulia akan beraksi sebagai cathode dalam sel korosi.

Driving force dimana terjadinya galvanic corrosion dapat kita amati dengan menggunakan table Galvanic Series yang diciptakan oleh Luigi Galvani.

Dari teori galvanic corrosion ini maka muncul lah sacrificial corrosion  (Anode Korban) atau disebut juga proteksi katoda. Proteksi ini dilakukan dengan melingungi logam tersebut dengan cara menghubungkannya dengan logam yang lain yang lebih tidak mulia.

Intergranular adalah bentuk korosi terlokalisasi dalam daerah yang sempit dan terjadi di batas butir. Terjadinya korosi ini selalu diikuti dengan adanya segregasi kimiawi atau presipitat fase tertentu di batas butir. Presipitat ini menghasilkan zona yang resistansi korosinya menurun karena kekosongan tersebut. Contoh yang paling sederhana adalah sensifitasi pada stainless steel. Pengkayaan chromium pada batas butir yang berbentuk presipitat menghasil daerah yang kurang chromium (daerah ini juga disebeut depletion zone).

Kejadian ini adalah manifestasi dari HAZ pada pengelasan dimana panas yang berulang ulang memunculkan sensitized structure. Untuk mencegah kejadian ini maka ditambahkan elemen penyetabil austenitic. Penyetabil elemen ini (Titanium dan Neobium) ditambahakan untuk mencegah terjadinya intergranular korosi dengan cara menghambat terbentuknya presipitat Cr pada batas butir. Hal ini dikarenakan terbentuknya karbida antara elemen penyetabil dengan Cr.

Jenis lain dari intergranular korosi adalah Exfoliation yang sering terjadi pada High strength alumunium alloys. Alloys yang telah mengalami ekstruksi atau dikenakan kerja berlebih dengan mikrostruktur elongasi adalah alloys yang berpotensial terjadi korosi jenis ini.

 Terjadinya intergranular korosi berbeda beda pada berbagai jenis logam namum keberadaannya secara fisik hampirlah sama. 

Transgranullar adalah korosi yang terjadi memotong butir. Sebenernya ini bukanlah bagian dari jenis korosi, namun lebih kepada morphologhy crack karena jenis korosi yang lain. Identifikasi terhadap trangranular dapat dilihat dengan terjadinya patah getas.